PURWOREJO - Purworejo merupakan kabupaten yang
memiliki posisi strategis di jalur lintas selatan. Sehingga, Purworejo
pernah menjadi lokasi penting dalam sejarah provinsi Jawa Tengah.
Kabupaten Purworejo pernah menjadi wilayah yang dijadikan Ibukota
Provinsi Jawa Tengah semasa revolusi fisik (1945/1949).
Hal tersebut terungkap dalam peluncuran buku "Bunga Rampai
Kisah-Kisah Kejuangan 45." Peluncuran buku diadakan di rumah pahlawan
nasional Jenderal Oerip Soemohardjo di jalan Dewi Sartika Purworejo,
Rabu (20/11/2013). Dalam buku yang disusun dari kumpulan kesaksian para
pelaku sejarah perang kemerdekaan di Purworejo tersebut, banyak kisah
menarik disajikan.
Ketua Dewan Harian Cabang Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Purworejo,
Istiharto (73) mengatakan, beberapa hal menarik disajikan dalam buku
tersebut, misalnya saja kisah Jend Sarwo Edhie Wibowo yang sampai
wafatnya hidup dalam kesederhanaan, kisah Jend Oerip Soemohardjo yang
membentuk TNI, kisah perjuangan Tentara Pelajar, sampai kisah daerah
terpencil di Purworejo yang sempat menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah.
Wilayah kecamatan Bruno yang berada di pegunungan dan masih memiliki
hutan luas ternyata sempat menjadi lokasi perjuangan. Dalam masa
revolusi fisik (1945-1949) wilayah Bruno menjadi markas persembunyian
para pejuang kemerdekaan. Bahkan, pada 1948-1949 Bruno menjadi ibukota
Provinsi Jawa Tengah "Dalam Pelarian" karena saat itu Semarang dikuasai
Belanda.
Dikutip dari buku, saat itu Gubernur Jawa Tengah KRT Wongso Nagoro
menempati rumah Dul Wahid, penduduk desa Kembangan. Keberadaan
pemerintahan Provinsi Jawa Tengah di desa Kembangan, Bruno didukung oleh
"Pemerintahan Militer" di masa perang kemerdekaan II. Terdapat satu
batalyon TNI yang membawahi dua peleton dan empat kompi pasukan yang
dipimpin R Sroehardoyo.
Hal yang sangat mengharukan adalah diadakannya upacara peringatan
empat tahun merdeka yang dipusatkan di desa Kemranggen, Bruno. Upacara
tersebut dihadiri segenap jajaran TNI dan masyarakat setempat. Dalam
buku setebal 86 halaman tersebut ditulis bahwa petilasan pemerintahan
Jawa Tengah di Bruno masih bisa ditemui.
"Tidak mudah untuk menyusun buku ini karena kami harus mencari
pejuang yang masih hidup. Itupun kisah mereka tidak semuanya bisa
diceritakan secara jelas karena faktor usia. Namun demikian, berbagai
kisah menarik berhasil kami dapatkan," katanya.
Anggota tim penyusun buku, Soekoso DM menambahkan, kesaksian para
pelaku sejarah tersebut tidak serta-merta ditulis. Ia harus
mencocokkannya dengan alur sejarah yang telah ditulis sebelumnya.
"Misalnya saja kami mengunakan buku 'Gelegar Bagelen' untuk
mencocokkan kisah mereka. Kalau sudah sinkron, baru kami masukkan,"
ungkapnya.
Soekoso mengungkapkan, kesulitan lain adalah nama tempat yang telah
banyak berubah. Karena itulah, penyusunan buku memakan waktu sekitar 18
bulan.
"Kami berharap, melalui buku ini kami bisa memberikan masukan
khazanah sejarah lokal kepada masyarakat utamanya generasi muda, agar
sadar ada perjuangan untuk memertahankan kemerdekaan," katanya.(*)

No comments:
Post a Comment