Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menyatakan Indonesia
sudah memiliki teknologi antisadap sejak beberapa tahun silam. Teknologi
tersebut murni karya anak bangsa yang tergabung dalam Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Sayangnya, karya berupa program antisadap itu belum dipergunakan secara optimal oleh pemerintah dan dunia usaha. Akibatnya, negara tetangga dapat secara bebas melakukan aksi sadap terhadap pejabat penting nasional. "LIPI sudah punya program antisadap, cuma belum dipakai," kata Menteri Gusti Muhammad Hatta
seusai
menjadi pembicara utama seminar nasional "Pembangunan Ekonomi Berbasis
Inovasi dalam Kerangka SIDa", Rabu, 20 November 2013. Sayangnya, karya berupa program antisadap itu belum dipergunakan secara optimal oleh pemerintah dan dunia usaha. Akibatnya, negara tetangga dapat secara bebas melakukan aksi sadap terhadap pejabat penting nasional. "LIPI sudah punya program antisadap, cuma belum dipakai," kata Menteri Gusti Muhammad Hatta
Dia berharap teknologi yang dimiliki LIPI tersebut dapat segera diterapkan agar penyadapan seperti yang dilakukan Australia dapat ditekan sekecil mungkin.
Program yang dikembangkan LIPI dinilai terbukti cukup andal dalam mengantisipasi penyadapan. Program tersebut, kata dia, diberi nama Bandung Raya Operating System (Bandros). Selain meminta pemanfaatan Bandros, Menristek memastikan kementeriannya akan terus mengembangkan ilmu dan teknologi antisadap. Pengembangan teknologi antisadap akan mengikuti perkembangan dunia teknologi informasi yang cenderung berkembang sangat cepat. "Kami akan lanjutkan pengembangan ICT-nya agar kita tidak tertinggal."
Kepala Laboratorium STMIK Global Informatika MDP Palembang, Dedy Hermanto, menjelaskan, anak didiknya sudah mempunyai alat yang dapat berfungsi sebagai antisadap maupun alat penyadap. Paling tidak kampusnya sudah mengembangkan dua alat yang dinamai Payload dan Quadcopter. Kedua alat tersebut dapat terbang layaknya helikopter yang dapat mengawasi alat yang dituju. "Keduanya dapat peringkat tiga besar di ajang lomba nasional," kata Dedy Hermanto.
Alat yang dikembangkan oleh mahasiswa MDP ini terbilang mudah dikembangkan serta irit biaya. Satu unit Payload maupun Quadcopter hanya menghabiskan dana maksimal Rp 4 juta. Sementara itu, masalah pengerjaannya, menurut Dedy, hanya dalam hitungan hari. "Sebagian alat masih diimpor, jadi itu yang bikin lama."
Sebagai tahap awal, hasil penelitian mahasiswa STMIK GI MDP sering digunakan dalam survei dan pemetaan udara.

No comments:
Post a Comment