China membuka sorotan media terhadap armada kapal selam nuklirnya
yang telah lama menjadi rahasia, dalam suatu gerakan yang dianggap para
analis sebagai tindakan yang diatur waktunya untuk mengintimidasi
Jepang, yang telah terlibat dalam perselisihan wilayah dengan China
terkait Laut China Timur yang kaya akan energi serta memiliki letak
strategis.
Pengungkapan tak terduga ini dipandang secara luas sebagai "China
memamerkan kekuatan militernya," tulis analis Wang Xiaoxuan dalam China
Daily. Laporan ini terbit setelah munculnya peringatan Kementerian
Pertahanan China kepada Jepang, untuk tidak meremehkan usaha China dalam
menjaga keutuhan wilayahnya di Laut China Timur.” Namun dia berkeras bahwa maksud yang dituju bukanlah hal tersebut.
China memiliki rencana ambisius untuk mengerahkan sebanyak mungkin
kapal selam nuklir pembawa misil balistik strategis kelas 094 baru
tersebut dalam satu tahun ke depan, demikian peringatan dari Komisi Peninjau Ekonomi dan Keamanan Amerika Serikat-China yang ditunjuk oleh kongres, menurut berita Defense News.
Ini akan berarti bahwa "untuk pertama kalinya dalam sejarah negara
ini, pertahanan nuklir China yang berbasis di laut telah mendekati
kemampuan operasional awal [IOC],” demikian komentar Defense News.
“Dalam jangkauan 4.000 mil laut, Angkatan Laut Tentara Pembebasan
Rakyat [PLAN] akan memiliki penangkal nuklir berbasis laut kredibel yang
pertama terhadap daratan AS, yang digabungkan dengan kapal selam misil
balistik nuklik kelas Jin tipe 094 [SSBN]. China telah meluncurkan tiga
SSBN kelas Jin,” Defense News mengutip laporan tersebut.
Namun, walaupun China memiliki lima kapal selam 094 yang beroperasi,
pihak militer terus memiliki masalah besar dalam
pengoperasian kapal-kapal tersebut, dan tidak ada satu pun yang
melakukan patroli laut selama lebih dari 30 hari.
Dan masih terdapat masalah mendalam mengenai alasan mengapasub armada nuklir China masih
tetap kecil dan dikelilingi masalah, dibandingkan dengan kekuatan
nuklir bawah laut global dominan yang dimiliki Amerika Serikat dan
Rusia.
China sesumbar, tidak ada kecelakaan nuklir pada kapal selamnya
China bangga akan catatan keamanan dan pencapaian armada nuklirnya, yang merupakan yang ketiga terbesar di dunia.
“Setelah pengembangan selama lebih dari 40 tahun, sekarang waktunya
bagi kami untuk menunjukkan kepada dunia tekad dan kemampuan untuk
menjaga keamanan, dan memberi tahu rakyat kami mengenai kekuatan
'misterius' ini," ungkap Laksamana Muda Li Yanming, komisaris politik
dari pangkalan Qingdau, kepada surat kabar resmi,China Daily.
Laksamana Muda Gao Feng, komandan dari pangkalan kapal selam PLAN,
mendiskusikan kekuatan kapal selam itu dalam apa yang dijelaskan oleh China Daily sebagai "open house yang langka di Qingdao,” suatu kota di provinsi Shandon, pada tanggal 27 Oktober.
Para kelasi turut serta dalam latihan keamanan kapal selam, latihan
pendidikan, dan simulasi pertempuran militer. Berbagai kapal dan
helikopter juga turut ambil bagian.
Gao mengatakan bahwa "kapal selam" milik PLAN "sama canggihnya dengan
pesaing kami." Dia menambahkan: "kami memiliki semangat untuk menang
dan taktik kami cukup baik untuk menyaingi mereka.”
Gao bersikeras bahwa pencapaian luar biasa dari armada kapal selam
PLAN adalah bahwa dalam 42 tahun pengoperasiannya, tidak ada satu pun
kapal selam China yang mengalami insiden reaktor nuklir.
StrategyPage.com mengatakan bahwa komentar Gao "merupakan sindiran
tidak langsung untuk Rusia, yang merupakan satu-satunya negara yang
memiliki kapal selam nuklir yang pernah mengalami kecelakaan [kapal
selam] nuklir.”
Namun situs web tersebut menyebutkan juga catatan kemajuan dan pencapaian mengecewakan dari program kapal selam nuklir China.
“Saat ini China memiliki sekitar selusin kapal selam nuklir yang
beroperasi (delapan kapal selam penyerang tujuan umum dengan tenaga
nuklir [SSN] dan empat SSBN dan rekam jejak mereka dalam 42 tahun
terakhir telah mengecewakan," tulis situs web tersebut.
SSN China digambarkan sebagai bising – dan oleh karena itu mudah
terdeteksi oleh sensor negara Barat – dan tidak dapat diandalkan.
China tidak memiliki akses ke teknologi rahasia kapal selam
Keberhasilan China yang tidak mengesankan dalam hal konstruksi dan
operasi kapal selam nuklir sangat kontras dengan pencapaiannya di bidang
industri berat dan ringan, manufaktur komersial, dan pengembangan
teknologi tinggi.
“China telah berhasil memanfaatkan secara penuh bidang terbuka global
dalam hal riset dan pengembangan elektronik konsumen dan komunikasi
selama 30 tahun terakhir ini," ungkap Martin Hutchinson, seorang analis
dari perkembangan ekonomi dan juga kolumnis keuangan untuk Reuters
BreakingNews, kepada Asia Pacific Defense Forum [APDF]. “Namun kondisi
seperti ini belum pernah diterapkan dalam bidang pembuatan kapal selam
nuklir.”
“Hanya dua negara yang telah membuat sejumlah besar kapal selam
nuklir canggih, yaitu Amerika Serikat dan Rusia," kata Hutchinson.“Namun
kedua negara ini memperlakukan kapal selam nuklir sebagai salah satu
teknologi terpenting dan rahasia milik mereka. Tidak mungkin untuk
mempelajari cara membuat kapal selam nuklir dengan membanjiri
Massachusetts Institute of Technology dengan siswa-siswa cerdas.”
Kemajuan yang lambat
Riwayat program pembuatan kapal selam nuklir China yang lama serta
lambat memastikan penilaian ini. Program tersebut merupakan salah satu
dari sejumlah kecil area dalam industri China dimana riset dan
pengembangannya tidak dapat menyusul Amerika Serikat serta negara maju
lainnya.
“Memakan waktu hampir satu dekade untuk merencanakan, membangun, dan
mengutak-atik demi memperoleh kapal selam nuklir China yang pertama,
yaitu Long March No. 1 Tipe 091, yang beroperasi tahun 1974 lalu,”
ungkap StrategyPage.com. Dan bahkan setelah itu, kemajuan masih sangat
lambat.
“091 sangat ketinggalan zaman,” tulis situs web tersebut. Namun dua
diantaranya masih tetap beroperasi. 091 jarang keluar di laut bebas
namun akhir-akhir ini digunakan untuk melatih awak kapal, “walaupun
kapal-kapal bising ini tidak dapat tetap tersembunyi ketika menyelam ke
dalam air.”
Pola kapal selam nuklir baru yang diluncurkan dengan rancangan kuno tersebut berlanjut hingga memasuki abad ke-21.
“SSN kelas 093 mulai muncul pada tahun 2002. Kelas ini juga telah
kuno saat dilahirkan, dan yang pertama dari Tipe 095 baru diluncurkan
pada tahun 2010, dan diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2015. 095
tunggal tersebut telah melalui percobaan di laut namun hanya sedikit
informasi yang ada mengenai performanya,” tulis StrategyPage.com.
“Pola perkembangan menunjukkan bahwa di area ini kemungkinan
kemajuannya kecil, dibandingkan pembuatan kapal induk dan kapal selam
diesel, hanya sedikit perubahan yang ada dalam program kapal selam
nuklir,” ungkap Hutchinson kepada APDF. “Ini juga adalah salah satu area
langka di mana China tidak dapat memanfaatkan kesepadanan teknologi
sipil maju yang tersedia secara terbuka dan digunakan luas dalam sektor
industri dan manufakturnya sendiri, untuk pengaplikasian langsung dalam
lingkup militer.”
Rancangan buruk dan ketinggalan zaman
Kapal selam nuklir baru Tipe 093 dan Tipe 094 melanjutkan rekam jejak
China dalam pembuatan kapal selam nuklir yang berkinerja rendah dan
mengecewakan.
“Tampaknya prioritas diberikan pada pembuatan 094 karena dengan
adanya misil nuklir yang dapat mencapai Amerika Serikat memberi China
pengaruh diplomatik lebih besar dibandingkan dengan beberapa SSN yang
baru,” ungkap StrategyPage.com. Namun tidak banyak yang dapat diharapkan
dari SSBN 094.”
Bagaimanapun juga Beijing terus mendorong program pembuatan kapal selam nuklirnya.
Tampaknya China telah membuat lima buah Tipe 094. Namun tidak ada
satu pun yang telah melakukan patroli perang – melaut untuk sedikitnya
30 hari dengan misil nuklir siap digunakan, StrategyPage.com melaporkan.
Patroli tempur dijadwalkan untuk dimulai pada 2014, namun rencana
tersebut "bergantung pada keandalan kinerja misil balistik JL-2 yang
rentan masalah," tulis situs web tersebut.
Hutchinson memperingatkan bahwa China tampaknya tertinggal beberapa
tahun dari pencapaian tujuan ini. "Ini merupakan salah satu area
langka di mana mereka tidak dapat memperlihatkan kurva pembelajaran
yang semakin cepat dalam hal penguasaan teknologi yang dibutuhkan,"
ungkapnya.
“Ini kebalikan dengan keberhasilan dari misalnya program luar angkasa berawak dari Beijing
yang cukup mengejutkan,” kata Hutchinson. “Jelas bahwa dalam bidang ini
China belum berhasil memiliki cukup keahlian yang dibutuhkan dalam hal
rekayasa dan keahlian ilmu pengetahuan terapan yang diperlukan untuk
berdikari dalam membuat kapal selam andal yang dapat digunakan, serta
sistem persenjataan yang berkaitan.”

No comments:
Post a Comment