Peluncuran Cina baru-baru ini atas Zona Identifikasi Pertahanan Udara
[ADIZ] yang luas di Laut Cina Timur telah meningkatkan ketegangan
dengan Jepang dan kontrol atas Kepulauan Senkaku yang diperebutkan.
Tindakan itu dengan cepat memicu kemarahan dari Jepang, dan para
pejabat tinggi AS yang mengatakan mereka ”sangat prihatin” dan
menegaskan komitmen mereka untuk membantu Jepang jika terjadi konflik
dengan Cina.
Beberapa pesawat Angkatan Udara dari Tentara Pembebasan Rakyat Cina
memasuki wilayah udara teritorial Senkaku hanya beberapa jam setelah
pengumuman ADIZ, mendorong Jepang untuk mengerahkan beberapa jet tempur.
Langkah ini terjadi satu hari setelah Cina mengerahkan beberapa kapal
Penjaga Pantai yang secara singkat memasuki wilayah maritim Senkaku.
Dengan memberlakukan ADIZ itu, Cina pada dasarnya menuntut bahwa
setiap pesawat – baik komersial, militer atau yang lainnya - harus
memberitahukan niat mereka kepada aparat Cina dan mematuhi aturan
aeronautika negara tersebut atau menghadapi potensi dampak yang parah.
“Angkatan bersenjata Cina akan mengadopsi langkah-langkah pertahanan
darurat untuk merespon pesawat yang tidak bekerja sama dalam
identifikasi atau menolak untuk mengikuti instruksi,” kata Menteri
Pertahanan Nasional Cina [MND]. Cina menambahkan bahwa tindakan ini akan
”mengidentifikasi, memantau, mengendalikan, dan bereaksi terhadap”
ancaman udara atau benda terbang tidak dikenal apa pun yang datang dari
laut.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menanggapi dengan tegas.
“Langkah-langkah oleh pihak Cina tidak memiliki validitas apa pun
untuk Jepang, dan kami menuntut Cina mencabut langkah-langkah yang bisa
melanggar kebebasan penerbangan di wilayah udara internasional,” kata
Abe dalam sebuah pernyataan. "Hal ini dapat mengundang terjadinya hal
yang tidak terduga dan juga merupakan hal yang sangat berbahaya.”
Tetapi juru bicara MND Yang meremehkan komentar Abe, menurut kantor berita resmi Xinhua di Cina.
“Kami tegaskan bahwa tujuan dari langkah Cina adalah untuk
mempertahankan kedaulatan nasional dan keamanan wilayah udara
teritorial, mempertahankan ketertiban penerbangan udara, dan merupakan
pelaksanaan efektif akan hak kami untuk membela diri,” kata Yang dalam
sebuah pernyataan. ”Pernyataan Abe benar-benar tidak beralasan dan Cina
tidak akan menerimanya.”
Yang juga menyarankan agar AS ”jangan memihak, jangan membuat
pernyataan yang tidak pantas, dan jangan memberikan sinyal yang salah ke
Jepang dan mendorong perilaku berisiko dari negara itu.”
Dua pesawat pengebom B-52 AS terbang selama beberapa jam melintasi
ADIZ Cina pada tanggal 25 November. Cina tidak menanggapi atau berusaha
untuk berkomunikasi dengan pesawat.
“Militer AS akan terus melakukan operasi penerbangan di wilayah
tersebut, termasuk dengan sekutu dan mitra kami, dan tidak akan dengan
cara apa pun mengubah cara kami melakukan operasi sebagai akibat dari
kebijakan baru ini,” kata juru bicara Pentagon Kolonel Steve Warren.
”Ketika kami terbang memasuki ADIZ ini, kami tidak akan mendaftarkan
rencana penerbangan, kami tidak akan mengidentifikasi transponder,
frekuensi radio, dan logo kami.”
Cina memperbaiki aturan ADIZ - tetapi tidak mundur
Sejak pemberlakuan ADIZ, telah terjadi perbaikan, namun bukan penarikan.
Cina telah menegaskan bahwa negara ini tidak akan menarik ADIZ.
Negara ini justru meningkatkan tekad untuk menegakkan batas-batas
teritorial ADIZ.
“Langkah ini tidak dirancang untuk menargetkan suatu negara atau
tujuan tertentu,” kata Duta Besar Cina Cheng Yonghua kepada The Asahi
Shimbun. ”ADIZ adalah langkah yang dilaksanakan oleh berbagai negara
karena mereka merasa adanya kebutuhan dari segi keamanan nasional. Cina
membuat pengumuman itu karena diperlukan.”
Stephanie Kleine- Ahlbrandt, direktur Institut Perdamaian AS untuk
Asia-Pasifik, mengatakan kepada The Japan Times: ”[Presiden Cina] Xi
Jinping sedang mengembangkan kebijakan luar negeri dengan pola pikir
kekuatan besar dan orang-orang perlu memahaminya. Mereka tidak
memperkirakan akan ada konsekuensi nyata negatif dari zona tersebut.
Mereka pasti tidak memperkirakan tingkat penolakan dari AS, tetapi
mereka tidak merasa perlu repot-repot untuk mengalah.”
Cina telah mendorong komunikasi antara para pilotnya dan pilot-pilot
Jepang untuk meminimalkan potensi penembakan tidak disengaja ketika
salah satu negara mengerahkan jet tempur.
“Sebuah bentrokan udara tidak terduga tentu membawa risiko yang lebih
besar dari bentrokan maritim apa pun,” kata Kleine- Ahlbrandt.
”Risikonya jauh lebih besar jika waktu untuk mengambil keputusan
berkurang dan sejenisnya.”
Cina telah mulai mengurangi sejumlah retorikanya dan berusaha untuk
meredakan ketegangan yang meningkat. Dalam konferensi pers bulanan
baru-baru ini, Yang Yujun mengatakan, ”ADIZ bukanlah zona larangan
terbang atau perpanjangan dari wilayah udara Cina.” Dia mengatakan bahwa
”tidak benar” untuk menyatakan bahwa Cina bisa menembak jatuh pesawat
di zona itu.
AS menganjurkan dengan kuat agar pesawat penumpang dan komersial dari
AS dan negara-negara lain untuk benar-benar memenuhi permintaan Cina
untuk melakukan kontak jika penerbangan tersebut akan terbang melalui
zona tersebut, meskipun Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan
negara-negara lain menyatakan mereka tidak akan mengakui ADIZ tersebut.
AS merasa 'sangat prihatin'
Baik Jepang maupun Cina mengklaim kepemilikan dari Kepulauan Senkaku,
yang terletak 400 kilometer [249 mil] di sebelah barat dari prefektur
Okinawa dan 200 kilometer [124 mil] sebelah timur laut dari Taiwan. Cina
beserta Korea Selatan juga mengklaim kepemilikan, tetapi menghindari
konflik. Kepulauan berisi lima pulau kecil dan tiga formasi bebatuan ini
dikenal di Cina sebagai Kepulauan Diaoyutai dan di Taiwan sebagai
Kepulauan Tiaoyutai.
AS tetap bersikap netral tentang kedaulatan pulau itu, tetapi mengakui pemerintahan Jepang atas pulau-pulau tersebut.
Sebuah perjanjian keamanan tahun 1952 antara Jepang dan Amerika
Serikat – yang merupakan perpanjangan dari perjanjian 1945 yang
mengakhiri Perang Dunia II - merupakan tanggapan militer AS dalam
memukul mundur ”bahaya umum” yang dihadapi Jepang.
"AS sangat prihatin terhadap aksi Cina,” kata Menteri Pertahanan AS
Chuck Hagel kepada wartawan pada tanggal 23 November. ”ADIZ merupakan
upaya destabilisasi untuk mengubah status quo di wilayah ini. Tindakan
sepihak ini meningkatkan risiko kesalahpahaman dan salah perhitungan....
Kami tetap teguh dalam komitmen kami kepada para sekutu dan mitra kami.
Amerika Serikat menegaskan kembali kebijakan lamanya bahwa Pasal 5 dari
Perjanjian Pertahanan Bersama AS-Jepang berlaku untuk Kepulauan
Senkaku.”
Sementara Cina mungkin merasa Jepang akan berkedip dengan pelaksanaan
ADIZ itu, AS menyatakan dengan jelas bahwa negara ini tidak akan
bersikap demikian.
“Pengumuman oleh Republik Rakyat Cina ini tidak akan dengan cara apa
pun mengubah cara Amerika Serikat melakukan operasi militer di wilayah
itu,” kata Hagel.
Pemerintah Korea Selatan telah memerintahkan Korean Airlines untuk
tidak memberi tahu Cina mengenai rencana penerbangan mereka ketika
memasuki zona tersebut.
Militer Taiwan telah melakukan sekitar 30 penerbangan ke ADIZ Cina -
wilayah yang tumpang tindih dengan zona serupa di Taiwan, kata seorang
pejabat Angkatan Udara Taiwan dalam sebuah konferensi pers tanggal 2
Desember.
Jepang menanggapi setelah Cina mengirimkan pesawat tanpa awak
Sementara Cina dahulu telah menyatakan bahwa negara ini mungkin suatu
hari menambahkan ADIZ, usulan ini terbengkalai selama bertahun-tahun.
Keadaan ini kemungkinan besar berubah pada bulan September lalu, menyusul tanggapan Jepang atas pesawat drone tanpa awak Cina
yang ”berpatroli” di Kepulauan Senkaku untuk pertama kalinya. Langkah
itu memicu Abe untuk memerintahkan pesawat jet tempur untuk menembak
jatuh setiap drone yang menembus wilayah udara teritorial Senkaku.
"Cina memainkan permainan berbahaya di sini,” menurut Narushige
Michishita, direktur studi keamanan dan internasional di National
Graduate Institute untuk Studi Kebijakan di Tokyo kepada The Guardian di
London. ”Ini sudah pasti merupakan tindakan berlanjut dan mungkin akan
memperpanjang dan memperburuk ketegangan yang sedang berlangsung.”
Departemen Pertahanan Cina menanggapi ancaman Abe dengan mengatakan
tindakan tersebut akan dianggap sebagai ”tindakan perang, dan Cina akan
mengambil langkah-langkah tegas untuk menyerang kembali. Pihak Jepang
akan bertanggung jawab atas konsekuensinya.”
Global Times milik pemerintah Cina mengatakan bahwa jika Jepang
menembak sebuah pesawat tak berawak Cina, ”Cina sudah lama tidak
terlibat dalam peperangan, tetapi perang akan membayangi jika Jepang
memprovokasi secara radikal.”
Setidaknya satu pengamat veteran berharap agar Cina menyadari konsekuensi yang menghancurkan dari konflik yang sebenarnya.
“Entah pemerintah Cina telah kehilangan akal sehatnya,” atau berharap
untuk ”menang dengan menampilkan aksi yang menggemparkan,” kata mantan
konsultan Pentagon, Edward Luttwak, kepada RT.com di Rusia. ”Insiden
penembakan kecil akan memulai serangkaian dampak ekonomi yang besar. Ini
akan menghentikan siklus kemakmuran Cina.”
No comments:
Post a Comment