India menugaskan sebuah kapal induk baru kedalam armada lautnya yang berkembang pesat untuk mempertegas pernyataan aspirasi laut biru AL dan peran AL dalam melindungi jalur komunikasi laut [SLOCs] yang melintas melalui Lautan Hindia.
Rusia menyerahkan kapal induk INS Vikramaditya buatan Rusia ke India
tanggal 16 Nov. pada sebuah upacara di galangan kapal Sevmash di
Severodvinsk, Rusia Utara. Kapal induk tersebut, yang dulu dikenal
sebagai Admiral Gorshkov, pernah menjadi bagian dari AL Soviet. Kapal
induk tersebut diperlengkapi ulang untuk AL India dengan biaya sebesar
$2,35 miliar USD.
Wakil Perdana Menteri Rusia, Dmitry Rogozin dan Menteri Pertahanan
India, A K Antony menghadiri upacara serah terima bersama Laksamana AL,
Devendra Kumar Joshi.
Kapal perang tersebut diserah terimakan pada AL India di galangan kapal Rusia, hampir lima tahun setelah tenggat waktu pengiriman semula
yang dijadwalkan pada Desember 2008. Rusia telah menawarkan kapal
perang tersebut kepada India tahun 1995 dengan klausul. bahwa India akan
membayar biaya perlengkapan ulang.
Kontrak ditandatangani pada Oktober 2000, tetapi negosiasi mengenai
biaya perlengkapan ulang telah berlangsung selama beberapa tahun. Sebuah
masalah dalam ketel uap terdeteksi sewaktu uji-coba di laut pada bulan Juli 2012, dan diperlukan satu tahun penuh untuk memperbaikinya.
Pada awalnya, kapal perang tersebut telah diresmikan sebagai Kapal AL
India [INS] Vikramaditya [yang berarti “setegar sang surya”]. Sekarang,
kapal tersebut sedang berlayar menuju India – pelayaran selama enam
minggu melalui Terusan Suez – dan akan ditempatkankan di pangkalan laut
Karwar, di pesisir barat India, kata AL India. Kapal tersebut mengangkut
kru sebanyak 1.400 orang.
“Perkembangan ekonomi India bergantung pada laut dan pengamanan
kepentingan maritim nasional berpusat pada kebijakan nasional,” kata
Antony setelah para pejabat dari India dan Rusia menandatangani dokumen
untuk penyerahan kapal. “Induksi ‘Vikramaditya’ yang diintegrasikan
dengan pesawat tempur MiG-29K
dan helikopter Kamov-31, tidak hanya memperkuat kebijakan pusat, tetapi
juga menambah dimensi baru terhadap kemampuan operasional AL kita,” ia
menambahkan, sambil secara sekilas merujuk pada peran “dominasi” New
Delhi yang telah diemban di Wilayah Lautan Hindia.
Joshi menjelaskan peran kapal perang baru ini: “Vikramaditya akan
membantu kita mencapai sasaran jangka menengah dalam pengoperasian dua
kapal induk.”
Kapal induk telah merupakan bagian dari struktur kekuatan AL India
sejak 1961, ketika kapal pertama tiba dari Inggris. INS Vikrant telah
digunakan selama 36 tahun sebelum dipensiunkan pada tahun 1997. Kapal
induk kedua, INS Viraat, tiba pada tahun 1987, lagi-lagi dari Inggris,
dan masih melayani AL, bersama Sea Harriers yang ditempatkan di atas
dek. Dengan kehadiran Vikramaditya, sekarang AL India akan memiliki dua
kapal induk.
Pada bulan Agustus, India meluncurkan INS Vikrant, kapal induk buatan dalam negeri, berbobot 48.502-ton yang dijadwalkan untuk digabungkan pada tahun 2017.
Transformasi relik Soviet
Pekerjaan yang terbesar adalah mentransformasikan relik era Soviet –
yang semula diklasifikasikan sebagai “kapal penjelajah berat” dari
desain sekelas-Kiev pada tahun 1970-an ke kapal induk modern yang mampu
bertahan dan mendominasi laut. Kapal tersebut disandarkan pada tahun
1978 di galangan kapal Nikolayev South di Ukraina, diluncurkan tahun
1982, dan ditugaskan pada AL Soviet pada tahun 1987 dengan nama “Baku”
[sekarang ibu kota Azerbaijan]. Saat kejatuhan Uni Soviet pada tahun
1991, kapal tersebut diubah namanya menjadi Admiral Gorshkov. Ledakan
ruang ketel pada tahun 1994 telah menyebabkan kapal itu bersandar di dok
selama satu tahun.
Pasca transformasi, kapal bertenaga uap ini telah memiliki mesin baru
yang menghasilkan dorongan yang lebih besar dengan menggunakan diesel
sulfur rendah berkecepatan tinggi. Dek penerbangan telah dirombak.
Semula, kapal tersebut dirancang untuk mengangkut helikopter dan pesawat
tinggal landas dan pendaratan vertikal [VTOL] Yakolev Yak-38. Kontrak
program perlengkapan ulang India termasuk perubahan untuk memungkinkan
STOBAR [tinggal-landas jarak pendek tetapi dengan perlengkapan penahan
untuk pendaratan melalui mode arresting wires]. Kapal tersebut
diperlengkapi ulang dengan “ski-jump” di dek, sementara kait ekor
pesawat dan kawat penahan digunakan untuk membantu pendaratan, yang
memerlukan perpanjangan dek penerbangan di bagian buritan.
Kapal perang tersebut diperlengkapi ulang dengan radar kompleks
"Resistor-E", sistem otomatis yang dirancang untuk memberikan kontrol
lalu lintas udara, pendekatan, navigasi pendaratan dan navigasi kisaran
pendek untuk pesawat yang terbang dari kapal tersebut. “Kompleks ini
berikut berbagai sub-sistemnya memberikan data navigasi dan penerbangan
ke pesawat yang dibawa kapal, yang beroperasi pada kisaran yang lebih
luas dari kapal induk," kata juru bicara Kementerian Pertahanan India,
Sitanshu Kar. “Sistem panduan pendekatan presisi membantu pesawat tempur
saat mendekati kapal, untuk diarahkan turun hingga jarak sedekat 30
meter [99 kaki] dari dek penerbangan.”
Sensor dan perlengkapan baru, seperti Radar Pengintaian Udara Jarak
Jauh, Electronic Warfare Suite, yang mampu mendeteksi dan menemukan
emisi elektronik, telah mengubah kapal tersebut menjadi platform modern.
Perlengkapan jenis multi ragam ini diperlukan untuk mengoperasikan
berbagai pesawat yang menyertakan pesawat tempur MiG-29K dan Sea
Harrier. Helikopter di atas kapal induk akan menyertakan helikopter
Kamov-28 berkemampuan anti-kapal selam dan helikopter Kamov-31 dengan
perlengkapan peringatan dini untuk tinggal landas.
Dengan kecepatan tertinggi 32 knot dan jarak tempuh sejauh 25.000
kilometer [13.500 mil laut] pada kecepatan jelajah 18 knot, Vikramaditya
memiliki panjang 283 meter [928 kaki] dengan lebar badan 51 meter [167
kaki] dan kedalaman 10,2 meter [33 kaki]. Kapal tersebut memiliki empat
mesin turbin uap.
MiG-29K ‘serangan jarak jauh dan pasti’
Motto Vikramaditya adalah “serangan jarak jauh dan pasti,” dan
sasaran itu akan dicapai dengan pesawat pemburu MiG-29K yang dibawa
kapal. Pesawat tersebut memiliki jarak tempuh 1.300 kilometer [807 mil]
yang dapat dilipatgandakan dengan pengisian bahan bakar di udara,
menggunakan Ilyushin-78 milik AU India yang berasal dari Rusia. Akhiran
huruf “K” pada MiG-29K adalah singkatan untuk “Korabelny,” yang berarti
kapal yang berasal dari Rusia.
Pesawat tersebut telah dikirim dan ditempatkan di pangkalan Laut di
Goa, di mana skuadron MiG-29K pertama diubah namanya menjadi “Black
Panthers” yang diresmikan pada bulan Mei. Mesin RD-33MK baru
memungkinkan dorongan tenaga lebih besar untuk pesawat jet tersebut.
Radar Zhuk-ME memberikan kisaran deteksi lebih besar pada target udara.
Pesawat jet dapat mencapai target di darat, di udara dan di air. Misil
jarak menengah “udara-ke-udara” memiliki hulu ledak homing radar aktif.
Misil anti-kapal, Kh-31A dan Kh-35A, diperlengkapi dengan hulu ledak
homing radar aktif.
Antony memuji kemitraan India-Rusia
Ini bukan yang pertama kali India membeli perlengkapan besar dari Rusia. Beberapa dekade lalu, Moskow telah memasok pesawat jet tempur Sukhoi-30-MKI, tank T-90, peluncur roket multi-barrel, fregat siluman angkatan laut dan bahkan menyewakan kapal selam nuklir kelas Akula.
Antony mengistilahkan hari penyerahan sebagai “hari surat merah”
dalam sejarah kerja sama India-Rusia dan menambahkan, “hubungan ini
tetap merupakan masalah prioritas tertinggi bagi kedua bangsa.” Ia
mengatakan Vikramaditya “telah mendorong kemitraan strategis antara
bangsa kita ke tingkat baru….kapal tersebut melambangkan kemitraan
strategis khusus dan istimewa yang teruji waktu pada kemitraan kita yang
telah lama terjalin.”
India telah menjadi sekutu militer Uni Soviet sejak 1960-an dan
berpihak kepada Blok Soviet selama Perang Dingin. Pada dekade lalu, New
Delhi telah memupuk hubungan pertahanan dengan A.S. Sebuah deklarasi
bersama mengenai produksi bersama perlengkapan militer diumumkan
setelah KTT antara Presiden A.S. Barack Obama dan Perdana Menteri India, Manmohan Singh pada bulan September.

No comments:
Post a Comment